Kamis, 10 November 2016

Movie Review: A Film By Hanung Bramantyo "HIJAB"

Director                     : Hanung Bramantyo
Producer                    : Zaskia Adya Mecca, Hanung Bramantyo, Haykal Kamil
Cast                            : Carissa Putri, Zaskia Adya Mecca, Tika Bravani, Natasha Rizki, Nino Fernandez, Mike Lucock, Ananda Omesh, Dion Wiyoko, Sophia Latjuba, Mathias Muchus, Andien, Kala Madali Bramantyo, Keefe Fabzli, Jajang C. Noer, Meriam Bellina, Rina Hasyim, Lily SP, Marini, Ustadz Ahmad AlHabsyi.
Studio                         : Dapur Film
Released Date           : 15 Januari 2015
Genre                         : Drama, Comedy
Duration                    : 100 minute
Country                      : Indonesia
Language                   : Indonesia


HIJAB
Hijab is a movie about the life of the household of four women with their problems. Besides taking care of domestic life, they are also eager to live independently and do not want to rely on her husband to open a business hijab. The womens are Bia, Tata, Sari and Anin. Except Anin, three other women wearing the hijab with different styles.
Bia who is a designer and artist whose husband chose to wear the hijab fashionable. Then Tata, the wife of a photographer, choosing to cover her hair is bald with a turban. While Sari who was married to a man of Arab descent stodgy bind her with the veil shari'ah.
Only Anin themselves who choose to live free. He did not want veiling and do not want to get married because he saw his three friends who are free to be used as constrained by the husband. And then, Bia, Tata, Sari, and also Anin decide its own path opening a business hijab online to prove they can live independently. Do you wanna know the continue about this film? If yes you should watch it then!
Hanung makes every scene in this movie is so funny and made everyone laugh watching it. Moreover, this film can be watched by all walks of life because it does not contain the elements of the forbidden. In containers with a variety of different viewpoints make this film contains a lot of messages - messages that are useful, especially for married couples, and people who want to start a business with a friend.
The negative thing is the scene where Matnur (husband of Bia) got stress and want to drink (it looks like beer and liquor similar). Rather unfortunate for fear impressed that it is common for a Muslim because the film character is a Muslim (Matnur), to drink beverages such types. Although in reality there may be people who behave like this and did not rule out also true in this film to show that relieve stress by drunk was not good.
A film in the category shall watch, especially if you include the connoisseurs of comedy works Hanung Bramantyo. This not only gives the feel of a comedy, the film also gives the feel wistful to sad. Many messages conveyed by this film; such as the importance of communication in a household, how to make a Muslim hijab step better and closer to God, the role of husband and wife are supposed to be able to support each other and I really recommend you to watch this movie. It  taught us about friendship, cared to each other and tried to tell us to enjoy our life. It was extremely amazing and entertaining film. From five stars i’ll give this movie four stars.


Movie Review by: Sharlita Nuriska

Sabtu, 05 November 2016

Lie In Wait

Sunset marks the start after
This left a glimmer of hope
In the inner silence
I am still here
I will not go
How long I have to wait?
You already ago
Will there do you say
I kept waiting
Waiting for a long time..
Until you come up to me

Written by: SHARLITA NURISKA

Looking Back On The Dedications Of The Heroes


Assalamualaikum Wr. Wb

Good Morning Everyone
First of  all let us pray and thank God who has given us health and blessing. so that we can be present and gathered together in this morning without any difficulties and obstacles. In this good opportunity, I would like to deliver a speech about dedications of heroes. 
For all my friends,

My name is Sharlita Nuriska, I am here as a representative of the younger generation who appreciate the dedications of its heroes to simply remind you all of the dedications of the heroes in this country who have fallen to make this country recognized the world and become independent or free from the invaders. as we all know that Indonesia was once colonized by the Dutch, English, and Japanese.

To create an independent Indonesia takes hundreds of years, and not an easy thing. Indonesia has been struggling for a long time and it all can not be separated from the dedication of the heroes in this country who dare to die for the sake of upholding the dignity of the nation and uphold the values of Pancasila.

Grateful we are all born when Indonesia is independent, we do not need to give up our lives to defend this country. Now we just need to honor those who fought for this country, such as maintaining the good name of Indonesia wherever we are, in honor of the dedication of heroes, keeping the peace between cultures and religions in Indonesia, following the flag-raising ceremony every Monday, and more that we can do to make this country proud up to the international arena.

That's all I can say, hopefully there are benefits and I once again I reiterate that the younger generation today must always honor the memory of heroes and hopefully given you all useful knowledge and in ridha'i God. If  you found many mistakes in my speech please forgive me.

Wassalamualaikum Wr.Wb

Speech Created by: Sharlita Nuriska

Kamis, 24 Maret 2016

Seminar; KREDIBILITAS MEDIA ONLINE DI ERA DIGITAL

Selasa, 22 maret 2016 Universitas Gunadarma mengadakan Seminar berjudul Kredibilitas Media Online di Era Digital. Seminar di mulai pukul 09:00 - 12:00, bertempat di Kampus D Gedung 4 lantai 6 Universitas Gunadarma.




Saat saya dan teman-temna lainnya datang langsung mengisi tanda tangan setelah itu di berikan buku tentang Seminar tersebut.


Seminar ini di hadiri oleh;
Prof.Dr. Didin Mukodim, Drs, MM (Wakil Rektor IV Universitas Gunadarma)
Ir. Kiayati Yusriyah MM., M.I.Kom (Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Gunadarma)
Dr. Pitoyo M.I.Kom (Pemimpin Tribun Jabar)
Jimmy Silalahi (Anggota Dewan Pers)
Dr. Edy Prihantoro (Dosen Komunikasi Universitas Gunadarma)
Moderator: Wahyuni Choiriyati S.Sos., M.Si (Dosen Komunikasi Universitas Gunadarma)

Pembukaan sekaligus Sambutan dari Ibu Kiayati


           Sambutan serta pengucapan selamat datang oleh Prof.Dr. Didin Mukodim, Drs, MM selaku Wakil Rektor IV  Universitas Gunadarma.

Saat ketiga Narasumber dan Moderator berkumpul diatas Stage untuk memulai Pembicaraan tentang Tema seminar.

                 Dalam seminar ini Dr. Pitoyo selaku Pemimpin Tribun Jabar dengan pembahasannya "MEDIA MASSA DICENGKRAM PROPAGANDA KAPITALIS" menjelaskan pada mulanya masyarakat menganggap Ideologi menjadi ancaman bagi mereka. Seperti Ideologi Komunis bahwa semua kepentingan berita milik negara dan Ideologi Kapitalis kepentingan milik pribadi yang berkuasa, serta ia menambahkan bahwa media melihat bagaimana masyarakat melihat berita.
                Kedua ia juga membahas tentang kecepatan dalam mengirim berita ke media online tanpa melihat sisi edukatifnya, “kecepatan seolah-olah menjadi ruh di media online”  perjelasnya saat mengawali pembicaraan seminar. Dr. Pitoyo sudah berpengalaman dalam beberapa perusahaan media online yang ia pernah bekerja disana. Ia juga mengatakan awal mula internet datang hanya beralasan kepentingan Amerika sedangkan web adalah revolusi media massa menjadi online. “Media massa online hadir mengancam kantor berita karna dengan adanya online semua dapat diakses secara instan dan cepat” tambahnya saat memberitahu bahwa pengguna internet pada tahun 2015 mencapai angka 88,1 juta dari 252,5 juta jiwa dari data BPS.

                Ia juga ber-opini bahwa media cetak sekarang kurang di lirik oleh masyarakat terutama masyarakat yang sibuk dalam pekerjaannya, contohnya media cetak sekarang paling rendah di Jawa, di Bandung masyarakat hanya membaca media cetak dalam waktu 24 menit, Jakarta 30 menit dan Sumatra 34 menit. Menurut pengalamannya juga ia memberitahu bahwa kecepatan dalam media online terjadi karna 1 wartawan menulis 7 berita dalam 12 jam, oleh karena itu kredibilitas kurang diperhatikan dalam menulis dan menyampaikan berita kepada masyarakat. Dr. Pitoyo juga menjelaskan bahwa kredibilitas diukur dengan sejauh mana pengguna menggunakan kontrol.
Dr. Pitoyo saat sedang mengawali pembicaraan seminar.

         Melanjutkan pembicaraan seminar, Dr. Edy Prihantoro selaku Dosen dari Ilmu Komunikasi Universitas Gunadarma membawakan tema ‘Media Massa, Antara Kepentingan dan Kredibilitas’. Ia mengatakan bahwa 30% masyarakat Indonesia pengguna Internet. Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi(TIK) pada hakekatnya ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat dalam berbagai manfaat di banyak bidang hanya dengan satu klik. Tetapi dengan banyaknya kemudahan yang diberikan Internet timbul banyak berita dari berbagai sumber yang faktanya masih belum jelas dan membuat masyarakat bingung dalam menyeleksi isi berita. “berita dalam sehari bisa muncul 2-3 kali tergantung kepentingan dan menariknya berita” tuturnya. Bahkan cukup 3 menit suatu peristiwa bisa menjadi sebuah berita. “ 1fakta/peristiwa yang sama tapi saat sudah menjadi berita berbeda-beda karena di setiap media massa online memiliki kepentingan-kepentingan tersendiri” tambahnya.
         Ia juga menjelaskan bahwa sebuah berita yang disajikan bukanlah realitas yang sesungguhnya karna berita yang muncul sudah melalui proses seleksi dan perubahan, hasilnya akan memperlihatkan penekanan pada satu aspek tertentu, menyamarkan atau bahkan menghilangkan suatu hal yang tidak dikehendaki media karena media memiliki kemampuan untuk menciptakan citra suatu realitas.

Dr. Edy Prihantoro saat menjelaskan inti pembicaraannya

             Narasumber terakhir adalah Anggota Dewan Pers yaitu Bapak Jimmy Silalahi yang sangat berpengalaman karna sebelumnya ia pernah bekerja di berbagai perusahaan media online yang cukup ternama di Indonesia. Membuka pembicaraannya ia menekankan bahwa media sosial yang kita sering gunakan bukan termasuk Pers karna Media Pers harus sesuai dengan UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers,Kode Etik Jurnalistik dan Perusahaan Pers. “Kalau yang kalian tau di media sosial seperti facebook, instagram, path, twitter bukan termasuk dalam Media Pers melainkan diatur spesifik dalam UU Informasi Transaksi Elektronik (ITE)” perjelasnya.
             Indikator Perusahaan Pers sesuai Pasal 15 ayat (1) UU No.40 tahun 1999 tentang Pers serta Standar Perusahaan Pers disarankan berbentuk PT karna badan hukumnya jelas sedangkan CV tidak dianjurkan sebagai badan pelembagaan bukan media. Ia juga menjelaskan Indikator Perusahaan Pers yang Profesional antara lain: meningkatkan pada kesejahteraan jurnalis/karyawan, asal penerbitannya jelas (masyarakat/non masyarakat), Tidak menggunakan nama media yang mirip dengan nama lembaga negara/penegak hukum, Izin penyelenggaraan penyiaran, dan pencantuman penanggung jawab media.
             Dalam pekerjaannya ia mengaku tahun lalu sudah banyak kasus di media sosial yang ia tangani sendiri dengan teamnya diantaranya seperti kasus Prita yang mengkritik pelayanan rumah sakit. Oleh karena itu ia menyampaikan bahwa berhati-hati dalam menggunakan media sosial, kita harus memilah dan memilih media yang kita inginkan.

Pak Jimmy Silalahi saat menyapa peserta Seminar

Kesimpulan yang saya dapat dari ketiga Narasumber yang hadir saat seminar adalah bahwa Media Sosial yang kita gunakan bukanlah termasuk dalam Media Pers dan tidak diatur oleh UU Pers yang berlaku, Tetapi walaupun begitu tetap ada Peraturan Hukum di Media Sosial dalam menindaki Cyber Crime. Dan juga menurut pengalaman saya pribadi seringkali saya melihat berita di Media Massa Online yang Judulnya tidak sesuai dengan Isi berita yang ada, ternyata itu terjadi karna ada Persaingan Kecepatan di berbagai Media Massa Online yang mungkin bisa dipertanyakan Kredibilitasnya. Intinya pada seminar hari ini kita harus pintar dalam memilah dan memilih Berita serta Informasi yang ada pada Media Massa Online dan disini sangat diperlukan Literasi Media dalam Menyikapi suatu Informasi atau Berita untuk mengetahui kebenarannya.



Sesi pemberian cendramata kepada Bapak Jimmy Silalahi dan Dr. Pitoyo serta foto bersama 

Sertifikat tanda mengikuti seminar